Welcome to Virtual Borobudur Logistics Website. Today is December 9th, 2016.

Suspended, sorry

Posted by: Dion Dwityabaswara @ 11:38 am
May 13, 2008 — Category: Uncategorized

Proyek Virtual Borobodur ini pada mulanya dikembangkan untuk proyek thesis saya, akan tetapi karena kompleksitasnya terpaksa ditunda.  Thesis saya dikembangkan dengan subyek Tana Toraja dan telah selesai.  Virtual Borobudur akan dikembangkan lagi di waktu yang akan datang.

Terima kasih.

Seharusnya, Wisata Cerdas untuk Candi Borobudur

Posted by: rully @ 8:16 pm
May 9, 2006 — Category: Articles/Press

Magelang, Sabtu

Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, tidak pantas dieksploitasi untuk kepentingan komersial.

“Tetapi, Borobudur harus digali, dipelajari, dan dipahami misteri dan makna simbol yang terpendam di dalamnya, sehingga warna wisata yang ada adalah wisata cerdas,” kata Ruwido, pegiat LSM Kepariwisataan Borobudur Gagas Gapura di Borobudur, Sabtu (10/9).

Menurutnya, wisata cerdas Borobudur membuat setiap warga negeri ini yang mengunjungi candi tersebut memeroleh pencerahan dan tergugah kembali rasa bangganya terhadap Indonesia, terdorong untuk memelihara dan bahkan mencipta sendiri karya bagi peradaban dunia.

Borobudur, katanya, merupakan pustaka budaya universal yang hanya bisa dibaca dengan memahami simbol dalam setiap batuan dan tatanan “mandala”-nya.

Menurutnya pula, susah dimengerti kebijakan pembangunan berbagai fasilitas baru di dalam kompleks Borobudur seperti Museum MURI, Taman Burung, dan Museum Kapal Samudraraksa. Berbagai fasilitas tersebut didirikan untuk lebih menarik minat orang untuk mengunjungi Borobudur, sehingga pihak pengelola Borobudur memeroleh tambahan pendapatan komersial.

“Mengapa tidak dibangun di daerah lain, supaya keramaian tidak tumpah ruah di sekitar Borobudur saja, sehingga kawasan penyangga Borobudur bisa berkembang. Apakah Borobudur masih perlu ’lipstik’ untuk memikat wisatawan agar lebih memadatinya,” ujarnya.

Padahal, lanjutnya keagungan candi itu justru terletak pada “kesendiriannya” di puncak bukit yang sepi.

Ia juga menjelaskan, Borobudur sebagai satu kesatuan dengan kawasannya ada dalam tatanan mandala. Program untuk kawasannya selama ini selalu bermuatan pariwisata.

Di lain pihak, budaya dan mata pencarian sebagian besar warga yang tinggal di sekitar Borobudur adalah pertanian. Tapi, tak ada program mengintensifkan pertanian agar dapat berkembang menjadi penopang pariwisata.

“Program konservasi alam, gunung, sungai, flora, fauna, dan air yang merupakan sarana utama pertanian sangat tertinggal jauh. Saluran irigasi yang sudah permanen hanya tiga bulan teraliri air. Selebihnya, kering,” katanya.

Sumber-sumber air di sekitar Borobudur, yang pada masa lampau melimpah dan menjadi penyangga kehidupan pertanian, sambungnya, telah lenyap karena pemeliharaan dan pelestarian alam kawasan Borobudur terbengkelai.

Seorang warga Borobudur Priyoto menuturkan bahwa banyak pihak mengklaim memiliki Borobudur seperti Unesco, masyarakat internasional, negara pendonor restorasi, Pemda Provinsi Jateng, Pemda Kabupaten Magelang, Pemda Provinsi Yogyakarta, para warga setempat, dan PT Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB).

“Borobudur itu milik siapa? Pertanyaan yang sederhana tapi sangat kompleks untuk mendapatkan jawaban yang tepat,” ucapnya.

Setiap pihak, menurut Priyoto, menyadari dan mengakui adanya klaim pihak lain. Tapi, setiap pihak juga mengaku tidak terganggu dengan klaim pihak lainnya.

Menurutnya, Borobudur akan lebih mudah dipahami bukan dari banyak pihak yang mengklaim kepemilikannya, melainkan pihak mana yang sekarang ini lebih diuntungkan dengan keberadaan Borobudur.

“Unesco bukan badan yang bergerak di bidang bisnis, masyarakat desa-desa setempat hidup tertinggal, ranking ke-16 kemakmurannya dari 21 kecamatan lain di Magelang. Masyarakat setempat setuju jika TWCB yang diuntungkan dengan keberadaan Borobudur,” katanya.

Sebagian besar warga setempat, Unesco, dan para pengunjung Borobudur, lanjutnya, menyayangkan kebijakan yang selama ini diterapkan secara kurang tepat oleh TWCB atas Borobudur, yang terkesan lebih menekankan komersialisasi daripada misi awalnya, yakni
untuk konservasi.

Masih menurutnya, diperlukan Pakta Borobudur untuk mengamankan Borobudur dan zona-zona yang mengelilinginya, agar terbentuk keseimbangan dan jaminan legal dalam pengembangan kawasan wisata dengan tetap mengedepankan kepentingan konservasi Borobudur dan kawasannya.

“Pakta itu disusun oleh para pakar berbagai disiplin ilmu. Nantinya pengelolaan wisata Borobudur memerhatikan nilai estetika, nilai ekonomi ikut terjaga dan terjadi penyebaran rezeki, tidak hanya terfokus di area TWCB,” tuturnya.

Lanjutnya, Pakta Borobudur hendaknya dibuat sebagai kontrol bagi pihak TWCB agar pengelolaan wisata Borobudur dilaksanakan berdasarkan pemahaman yang baik, antara lain tentang konservasi serta lanskap kebudayaan dan spiritual.

Kompas, Sabtu, 10 September 2005,

Sumber: Ant
Penulis: Ati

Kesucian Borobudur Sudah Sulit Dirasakan

Posted by: rully @ 8:04 pm
Category: Articles/Press

Kesucian Borobudur Sudah Sulit Dirasakan
Magelang, Sabtu


 

Rahasia tersembunyi tentang nilai-nilai kesucian Candi Borobudur yang terletak di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, saat sekarang ini makin sulit dirasakan pengunjung, kata mantan pengajar kajian sejarah kebudayaan Indonesia “Murdoch University” Perth, Australia Barat, Paul Stange.

“Rahasia tersembunyi Borobudur yang ada kesucian dan kesunyian di tempat ini sulit dirasakan karena ada suasana tertentu yang diciptakan di sekelilingnya sehingga sulit pengunjung mengetahui akar kesucian yang ada,” katanya saat diskusi malam tahun baru di “Warung Info Jagad Cleguk” di Borobudur, Jumat (31/12) malam.

Ketika komunitas Borobudur melakukan kegiatan menyambut malam tahun baru antara lain dalam bentuk renungan dan diskusi persoalan Borobudur di tempat itu, dari sekitar 50 meter atau tepatnya di areal parkir Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) juga digelar pentas musik sehingga suasana terkesan “ingar bingar”.

“Borobudur sekarang dikelilingi masyarakat yang  teriak-teriak dari kebudayaan mana saya tidak tahu, ini mau mendekati sesuatu yang suci tetapi suasana dirusak lingkungan yang tidak dipelihara,” katanya.

Ia mengemukakan, hal ikhwal menyangkut kesucian menjadi daya tarik kuat bagi kedatangan orang di suatu tempat yang memiliki nilai kesucian itu.

Hilangnya nilai kesucian tersebut, katanya, juga dirasakannya di kompleks Masjid Demak Jawa Tengah yang menjadi peninggalan Wali Songo.

Ia menyatakan, instansi pemerintah dan masyarakat seperti di sekitar Borobudur dan Masjid Demak Kabupaten di Kabupaten Demak hendaknya jangan memandang suatu monumen sebagai obyek kebendaan.

Upaya memelihara daya tarik suatu obyek wisata, katanya, sekaligus memelihara kawasan dan lingkungan.

“Sehingga memungkinkan keadaan tenang, unsur batin, jiwa dan tempatnya tetap terpelihara. Kalau hanya mengejar keuntungan benda, setiap gedung hanya dianggap benda saja maka daya tariknya akan kurang,” katanya.

Ia mengatakan, upaya pemeliharaan tempat suci agar tetap suci harus mengikutsertakan penataan kawasan dan lingkungan termasuk masyarakat sekitar.

Pelestarian suatu tempat yang telah diciptakan pada masa lampau dengan memiliki nilai kesucian selain menambah daya tarik turis juga menghargai nenek moyang sebagai penciptanya.

“Semua harus saling menguntungkan, turis dapat belajar tentang kebudayaan dan masyarakat ikut menghidupi jiwa tempat suci itu,” katanya.

Penulis sastra asal Australia Elizabeth D. Inandiak mengaku, semula dirinya belum sadar bahwa cara pedagang Borobudur menjajakan dagangannya kepada para turis yang terkesan kurang simpati adalah akibat eksploitasi yang terjadi bertahun-tahun.

“Karena pengunjung di atas berteriak-teriak, foto-foto, di tempat suci itu, sehingga sebenarnya yang suci adalah  kaki yang tersembunyi yakni Maha Karmawibangga. Itu daerah suci.  Kaki tersembunyi itu tempat suci, tempat berkumpul kita. Masyarakat Borobudur membikin saya sadar, akrab dengan Borobudur, Borobudur membimbing kita karena saya dapat merasakan bahwa masyarakat yang paling dipojokan pemerintah,” katanya.

Sumber: Kompas, Minggu, 02 Januari 2005, 14:57 WIB

(Ant/jy)

PT TWCB Penyebab Utama Masalah Kepariwisataan Borobudur

Posted by: rully @ 7:51 pm
Category: Articles/Press

August 30, 2005

PT TWCB Penyebab Utama Masalah Kepariwisataan Borobudur

Borobudur, Minggu

Keberadaan PT Taman Wisata Candi Borobudur telah menjadi penyebab utama munculnya berbagai persoalan kepariwisataan di sekitar Borobudur selama ini karena tidak melibatkan masyarakat sekitar, kata Ketua Paguyuban Kepala Desa se Kecamatan Borobudur Slamet Tugiyanto.

“Padahal program pemerintah untuk pariwisata adalah peduli terhadap rakyat, tetapi PT (TWCB,Red) tidak peduli, pengelolaan pariwisata Borobudur juga tidak memerhatikan masalah keadilan,” katanya di Borobudur, Minggu (28/8) usai bersama para pegiat komunitas Borobudur yang tergabung dalam Forum Lintas Masyarakat Borobudur bertemu secara tertutup dengan Bupati Magelang Singgih Sanyoto.

Mereka merencanakan aksi damai antara lain berupa meditasi di Candi Borobudur, ziarah ke makam mantan Menteri Penerangan Boediharjo di Dusun Tingal Desa Wanurejo Borobudur, “happening art” di Jl Medang Kamolan sekitar Candi Borobudur, tabur bunga di Gunung Merapi, labuhan di Kali Progo dan diskusi kepariwisataan sejak Minggu (28/8) hingga Selasa (30/8).

Kegiatan FLMB yang antara lain terdiri Paguyuban Kepala Desa se Kecamatan Borobudur, Paguyuban Badan Perwakilan Desa, Jaringan Kerja Kepariwisataan Borobudur, Komunitas “Warung Info Jagad Cleguk”, Lembaga Perekonomian Rakyat (Lepek) dan Pemuda Borobudur terkait rencana kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan “Museum Kapal Samuderaraksa” di Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) Rabu (31/8) mendatang.

Tetapi aksi mereka ditunda. Aji Luhur, Tokoh Pemuda Borobudur menyebut pembatalan aksi mereka itu dengan alasan untuk kepentingan yang lebih besar.Pembatalan itu, katanya, telah menjadi pengorbanan perasaan masyarakat Borobudur yang 26 tahun terakhir menderita akibat pengelolaan Candi Borobudur tanpa melibatkan warga sekitarnya.

“Kami ’pending’ acara kami bukan karena mental masyarakat Borobudur tetapi untuk kepentingan yang lebih besar, ini pengorbanan perasaan kami,” katanya.

Slamet yang juga Kades Candirejo Kecamatan Borobudur Magelang itu mengatakan hingga kini pihak PT TWCB telah melakukan eksploitasi Zona II Dalam Candi Borobudur untuk kepentingan komersial.

“Rakyat dan para lurah (kades,Red) tidak setuju karena pemerintah menata lingkungan sekitar candi supaya turis menyebar ke desa-desa sekitar candi. Kalau eksploitasi di zona II maka turis terpusat disitu,” katanya.

Hingga saat ini pihak TWCB mengembangkan Zona II Dalam Candi Borobudur antara lain Taman Burung, wisata gajah, Museum MURI, kereta mini dan Museum Kapal “Samudera Raksa” yang bakal diresmikan Presiden SBY Rabu (31/8) mendatang.

Ia menyebut, eksploitasi Zona II Dalam TWCB telah merugikan kehidupan masyarakat sekitar Candi Borobudur yang tinggal di “desa-desa tematis” dan memiliki daya tarik kuat untuk wisata. Kecamatan Borobudur meliputi 20 desa.

Menurut dia, pihak TWCB harus memberikan pembinaan yang intensif kepada masyarakat desa-desa sekitar Candi Borobudur agar berkembang optimal sebagai tempat tujuan wisata. “Supaya desa-desa didatangi turis dan bukan sebagai pesaing,” katanya.

Sumber: Ant
Penulis: Dna

Sumber: Kompas Cyber Media, Minggu, 28 Agustus 2005, 19:45 WIB

Description of Borobudur Temple (Stub)

Posted by: Dion Dwityabaswara @ 4:25 am
April 3, 2006 — Category: Conceptual

(This document is a Stub, meaning it needs proper source and/or citation information.)

The Borobudur Temple is considered as one of the Seven Wonders of the World. This temple is located at Borobudur District. South of Magelang in the Province of Jawa Tengah.
The expression of experts who had been studying Borobudur Temple varied some way. Bernet Kempers’ expression was Borobudur is Borobudur, meaning that Borobudur Temple is very unique in her own way. Nieuwenkamp (an artist) imaginated Borobudur as a big lotus flower bud ready to bloom which was floating on a lake. Nieuwkamps’ imagination was supported by N. Rangkuti (1987) that from the air, the Borobudur Temple looks floating.
From the geological studies, experts were able to prove that Borobudur area was one time a big lake. Most of the villages around Borobudur Temple were at the same altitude, 235 meters above the sea level. The same altitude included the Pawon Temple and Mendut Temple. Thus the area under 235 meters altitude was below the lake water level.
Based on the inscription dated 842 A.D., Capparis suggested that Borobudur was one time a place for praying. The inscription stated a phrase such as: “Kawulan i Bhumi Sambhara”. Kawulan means the origin of holiness. Bhumi sambhara is a name of a place in Borobudur. Paul Mus stated that Borobudur Temple had the structure of stupa (conical form) with double expression. As a whole, the Borobudur Temple was an open-flat stupa but on the other hand, the temple expressed the idea of a closed world.
The latter expression could be felt when one is already inside the temple. Whenever a person is inside the temple, his or her view will be limited to high walls full on relief’s, the veranda is always squared in such away that once could not see other parts of the temple, even in a same floor. The same feeling happened if one stood on arupadhatu round platform, he or she will have a wider view only on that level but are not able to see the lower level nor the upper level like the one on rupadhatu and kamandhatu.
It could be said that Borobudur is a symbol of cosmic mountain covered by the sky roof, a specific world that could be reached through isolated alleys as stages. The closed structural design of the temple expressed the concept of a closed world, not just a technical reasons as had been suggested by other experts. (Daud AT, 1987).
Borobudur was built by Sanmaratungga in the eighth century and belongs to Buddha Mahayana. Borobudur was revealed by Sir Thomas Stanford Raffles in 1814. The temple was found in ruined condition and was buried.
The overall height was forty-two meters but was only 34.5 meters after restoration and had the dimension of 123 x 123 meters (15.129 square meters). There were ten floors. The first floor up to the sixth floor was square from. And the seventh to the tenth floor were round form.
Borobudur is facing to the East with a total of 1,460 panels (two meters wide each). Total size of the temple walls was 2,500 square meters, full of relief. The total number of panels with relief was 1,212. According to investigations, the total number of Buddha statue was 504 including the intact and damaged statues. The temple-undergone restoration from 1905 to 1910 and the last restoration were done in 1973 to 1983.

Taken from www.indahnesia.com (http://indahnesia.com/indonesia/BOROB1/borobudur_introduction.php)

Borobudur monument stood by a natural lake: chronostratigraphic evidence and historical implication

Posted by: granita @ 11:31 pm
April 2, 2006 — Category: Articles/Press

A conclusion of a research article by :

  • H. Murwanto (Research Center for Natural Disaster, Gadjah Mada University)
  • Y. Gunnell (Laboratoire de Geographie Physique, CNRS-UMR 8591, 1 Place A. Briand, 92120 Meudon, France)
  • S. Suharsono (Research Center for Natural Disaster, Gadjah Mada University)
  • S. Sutikno (Research Center for Natural Disaster, Gadjah Mada University)
  • F. Lavigne (Laboratoire de Geographie Physique, CNRS-UMR 8591, 1 Place A. Briand, 92120 Meudon, France)

The life history of lake Borobudur was influenced by far-field volcaniclastic deposits conveyed by turbid rivers from the active volcanoes in the northeast and nortwest, and by near field clearwater runoff fromm the menoreh hills in the west. The construction of the temple on a promontory extending into a lake manisfestly occured by design. Seasonal lakeshore fluctuations, although not detectable in the sediment record, probably played an important part in conferring on the temple a semi-aquatic character, especially towards the end of the annual rainy season. The findings directly support the interpretations of the visual artist W.O.J. Niewwenkamp and his contemporary scholar P. Mus, which were initially dismissed by scientist but appear to be considerably more consistent with buddist cosmogony than if Borobudur had never stood by a lake. In this perspective, the shift of the Mataram government to East Java may have been caused by some water related disease (the Kedu plain around Borobudur still is one of the few remaining pockets of Malaria in Java today) rather than any given volcanic hazard.

A must read research for “virtual borobudur” …

Project Upper Terrace

Posted by: Dion Dwityabaswara @ 2:44 pm
March 24, 2006 — Category: Technology

Project Upper Terrace

Project Upper Terrace has begun!
This partial project is a technical experiment phase in which it tries to establish the foundation for the Source Engine SDK. The area chosen is the upper circular (slightly elliptical) terraces, with 72 smaller stupas and one big stupa on top of it. This area is the simplest of all part of Borobudur in term of speed of building the model, but it is one of the most complex in term of polygon count (because of the rounded forms) which poses quite a challenge for the test. The outcome of this project will be the first Source Engine rendering of the model and the result is targeted to finish around early or mid Spring.

3rd BOROBUDUR FIELD SCHOOL (BFS)

Posted by: Dion Dwityabaswara @ 10:42 am
March 19, 2006 — Category: Conceptual

3rd INTERNATIONAL FIELD SCHOOL ON BOROBUDUR CULTURAL LANDSCAPE HERITAGE CONSERVATION
by Center for Heritage Conservation (CHC), University of Gadjah Mada, Indonesia
in Collaboration with:
Takada-Kanki Laboratory, Kyoto University, Japan
Miyagawa Seminar, Wakayama University, Japan
Indonesia Heritage Trust (BPPI)
Jogja Heritage Society (JHS)
March 27th – April 2nd 2006

This is an important event regarding the “future” of Borobudur as discussed in the “Borobudur UNESCO Expert Meeting” on July 2003, in which a requirement for study of its cultural landscape was made.

This is the THIRD of the field school series and this time it concentrates on improving participant’s ability to implement cultural landscape preservation, which includes: inventarization, documentation, presentation, and the resulting guidelines for a given area.

The field school will take place in 6 days starting March 27 to April 2, 2006, right on the spot of Borobudur and its landscape environment. Participant will have homestay accomodations on the local villages.

Activities include: a. Field Lecture, b. Borobudur Heritage Trail and Sunrise Trip, c. Field Survey, d. Community Discussion, e. Presentation, f. Activities with the local people.

For additional information please contact:

Center for Heritage Conservation
Jl. Grafika 2, Sekip Yogyakarta, Indonesia.
Phone: +62 274 544910
Fax: +62 274 580852

Contact Person: Sinta, Rully
E-mail: she_jogja@yahoo.com, (Sinta)

rintihan kecil … [translation: a whisper of pain]

Posted by: granita @ 9:44 am
March 17, 2006 — Category: Articles/Press,Conceptual

Sudah terlalu lama kita memandang Borobudur hanya sebagai monumen, bendawi. Bahkan masyarakat di sekitar Borobudur sudah mulai melupakan kegiatan-kegiatan yang mereka biasa laksanakan di sekitar Borobudur misalnya piknik beramai-ramai saat lebaran. Borobudur terlihat semakin jauh dari pengguna ruangnya. Saat ini ruang-ruang Borobudur bermakna “pariwisata”. Mungkin hanya 1 tahun sekali saat waisak, Borobudur kembali menemukan jatidirinya sebagai bangunan ibadah, selebihnya selama 364 hari Borobudur hanya bisa merintih sebagai obyek wisata. Sampai kapan …??? Adakah proyekmu ini bisa ikut andil dalam memperbaiki nasib Borobodur, mengembalikan Borobudur di “tempat”nya yang terpuja …

[translation by Admin]
Too long have we been considering Borobudur as a phyisical monument. Even people living around Borobudur have started to leave their habit of using Borobudur’s surrounding for example as a place for celebrating Ramadhan (Islam’s Celebration). Borobudur is becoming further from being “used”. At the moment, spaces in Borobudur are considered as “tourism” spaces. Only about once a year that Buddhists can use Borobudur during the Vaisak Celebration that Borobudur can be it’s true being, and the rest 364 days Borobudur can only “mourn” as a tourist object. How many more days Borobudur has to suffer? Will this project provide contribution to make a better “life” for Borobudur? Can this project return Borobudur to its original sacred being?

Granita is an assistant professor of the Magister Perencanaan Kota dan Daerah (Magister of City and Regional Planning), University of Gadjah Mada, Indonesia.

Valve Software Reply #2

Posted by: Dion Dwityabaswara @ 8:57 am
March 16, 2006 — Category: Technology

Another reply from Valve Software, this time Julie Caldwell from a different division I guess, asking for how I would use the SDK. I really hope nothing bad will come out of this. .^_^.

Next Page »